Ya Allah...
hari ini terasa dalam dada
masih engkau berikan rahmat
walau kami laku bejad
Ya Allah...
hari ini begitu nyata
kerunia dalam jiwa
sebuah ketulusan
Ya Allah...
hari ini dan entah
sampai kapan hamba
mampu tafakkur akan Enta
Yang Maha Pemurah
Yang Maha Penyayang
Yang Maha Bijaksana
Yang Maha Segalanya
Ya Allah...
hamba berusaha tambal
pakaian yang dipenuhi kebatilan
keserakahan laku bejad hamba
yang selalu lekat
selalu turut serta
tiap gerak
tingkah hamba
Ya Allah...
sebenarnya hamba malu kerna
kerunia Enta begitu banyak
hingga tak dapat hamba pikul tuk memikirkannya
Ya Allah...
hamba malu kerna
laku tingkahku tak layak
Enta beri akan hujan nikmat mengguyur tubuh hamba yang dikelilingi dosa-dosa
Yaaa Allah...
tetesan air mata hamba
ku coba ratapi rasa qalb
kurang bahkan tidak mampu akan syukur atas Enta
Yaaa Allah...
hanya dengan air mata
hamba coba menata rasa
yang penuh angkara murka
Yaaa Allah...
ampuni hamba
pelaku dosa
angkara murka
Yaaa Allah...
ampunan Enta
hamba inginkan
penuh keihlasan
Ighfirlii
dzunubii
wa in lam taghfirlii
la akunannaa minal khaasyiriin
walhamdulillahi rabbil 'aalamiin
addienk, Q_doezz, 30 Muharam 1430 H
tetesan air mata
cukuplah bagus bagi kita
yang hanya bisa
melihat
ataupun mendengar
kala
tangan
kekuatan
kita
lumpuh
kerna ketidakberdayaan
sebuah tatanan
kurungan alam
yang membedakan
ketidakberdayaan kerna
politik kebangsaan
akankah kita
hanya bisa diam
saat badan satu jalan
di kikis jahanam
di cabik
di sabit
terasa sakit
benar
sakit
hati
terasa
teriris dan meringis
kala badan kita
di dhalimi
apalah daya
kerna beda
beda negara
beda bangsa
tapi
rasa
kesedihan
kepedihan
tangisan
sangat terasa
di pelupuk mata
hasbunallah
wanikmal wakil
ni'mal maula
mani'man nashiir
laa haula wala quwwata
illa billahi 'aliyiil'adhim
addienk, Q_doezz, 18 Muharam 1430 H
siang saat
jam berdentang
tunjukkan waktu adzan
dhuhuran tiba
kala manusia terlelap
dengan kesibukan
kegiatan keseharian
kerap melalaikan kewajiban
senyap terdengar
jerit tangisan
irisan hati seorang insan
yang ditinggal
ternyata
seorang manusia
tlah dipanggil-Nya
meninggalkan pilu lara
sontak tanpa aba
massa menuju suara
tangis pilu lara
dengan ihlas bersua
Inna lillah wa inna ilaih raji'un
sungguh kita milik Allah
dan sugguh kita
akan kembali kepada-Nya
tak terasa
air mata ikut memuar
keluar menunjukkan
kesedihan sanak saudara
kehilangan saudara
kepergian bapak
manusia
tercinta
sudah waktunya
pengurusan jenazah
dengan bopongan saudara
dimandikannya
diberikan aroma wewangian
basuhan air memberikan kesucian
mewudhukannya
badan yang tanpa daya
lanjutnya
si mayat dipakaikan
tiga lapis kain kaffan
putih membinar
semua tersusun
membujur kaku
dalam kereta
pemberangkatan
di iringi do'a
kereta pemberangkatan pun siap
menemani jenazah
sampai alam barzah
kereta yang beroda
manusia
berjalan menuju mushalla
atau masjid-Nya
diiring sanak
saudara
handai tolan
ataupun tetangga
acara pelepasan
hidmad
hengang
tenang
sudah menganga
rumah masa depan
seperti mempersilah
semua manusia dimuka bumi-Nya
hanya ilmu yang bermanfaat
hanya amal jariyah
hanya doa anak-anak shalihnya
mampu mendampingnya kelak sampai kiamat
Allahumma ighfirlahu
warhamhu
wa'aafihi wa'fu 'anhu
wa akrim nuzulahu
addienk, Q_doezz, 16 Muharam 1430 H
Wahai Sang Pemilik alam
kapan Engkau turunkan
harapan demi harapan
yang belum kunjung datang
ku raba
ku terka
ku rasa
memang siapa
diriku minta dikabulkan
semua urusan
semua permintaan
yang hanya ada saat membutuhkan
Dia yang Maha Kuasa
atas segala
yang ada
dimuka dunia
Dia Maha Pemurah
semua nikmat
kerunia
telah berlimpah
atas kita
walau terkadang
tak menghiraukan
rasakan yang ada di sekitar kita
duhai pujaan hati
kapan Engkau hujani
hati dengan rahmani
rahimi Sang Penguasa hati
yang mampu menjelajahi
relung-relung sunyi qalbi
pada tiap-tiap waktu fajri
bersujud tu' menyimpuhkan diri
berdzikir
bertasbih
bertahmid
memuja Sang Rabbani
ya Ilahii
ya Kafi
ya Mughni
iftah abwaaba shaalihin
ya Ilaahii
ighfir
ighfir
ighfir dzunuubii
addienk, Q_doezz, 11 Muharam 1430 H
hai insan yang dimuliakan
kapan engkau sadar???
bahwa dunia
penuh permainan
hai insan yang selalu dibahagiakan
kapan engkau tafakkur atas
semua yang dianugerahkan
tiap jengkal kehidupan
hai insan penerima nikmat
kapan engkau teringat
kerunia yang menjagat
tak pernah kau rawat
hai insan yang dipenuhi
taburan benih
kasih Ilahi
kapan engkau merendahkan diri
di hadapan Ilahi Rabbi
yang selalu memberi
tanpa rasa iri
seluruh jagad raya ini
kesombongan
kecongkakan
kedengkian
kebencian
luntur
hancur
lebur
bersamaan datangnya malaikat
peniup terompet sangkakala
pertanda sudah saatnya
terhentinya semua
kegiatan makhluk-Nya
alangkah takut
muka menciut
melihat sang maut
datang menjemput
tanpa rasa belas kasih
tanpa rasa sedih
mereka siapkan diri
tuk mengabdikan diri
akankah semua kehidupan
mampu menjauhkan
ketentuan Tuhan
yang sudah ditakdirkan
dalam penantian dan harapan
tertunduk cemas
lemas
menunggu keputusan
saat lalu
umurku tanpa malu
kesombonganku
terampunikah diriku
pilu ingatanku
masa laluku
dipenuhi kebodohanku
membanggakan duniawiku
rugi waktuku
rugi umurku
rugi kerjaku
rugi hidupku
owh Rabbii
bisakah kami
kembali lagi
menapaki kehidupan dulu kami
cukup sudah
hari indah penuh barakah
cukup sudah
kasih sayang Ilah
tanpa rasa syukur kami
terus perdayai
hidup kami
bertabur harumnya dosa-dosa kami
hanya doa yang membingkai hati
ighfirlii dzunubii
wa in lam taghfirlii
lanakunanaa minal khaasyiriin...
addienk, Q_doezz, 4 Muharam 1430 H
tengah malam ku coba melebarkan mata
tuk melihat kegelapan sekujur badan
terus membayang dan membekas dalam angan
tindak kelakuan dipenuhi lumpur kejahilan
ku ambil air tuk bisa mulai bersihkan jemari tangan
agar semua gerakan terhindar tindak kebejatan
ku hirupkan air dalam kedua lubang
hidung yang bisa membaurkan bau maksiat dalam pikiran
ku berkumur supaya mulut
terkatup bisu tanpa suara lacut
menggemakan kidung-kidung
fitnah, kedengkian, kesombongan, janji palsu
ku basuh muka beserta niatan
membiarkan wajah dan lidah
bersatu mendendangkan
ilahiah Sang Penguasa
memberikan cahya terang
muka berkilauan sinar
tanpa redupan kejahatan
kepucatan murka sang durjana
ku basuh kedua tangan
dengan harapan segala tindakan
tak selalu memberikan beban
walau dengan kepalan tangan
usapan air pada rambut kepala
membuat sejuk menyelimuti daya
upaya ingat pada Sang Pencipta
walau dalam suka duka
tak lupa ku bersihkan daun telinga
yang senantiasa dengar
dan berusaha mendengarkan
kejelekan dan keburukan serta kebodohan orang sekitar
supaya mampu mendengar
tangisan kesakitan
jeritan kepiluan
lara lingkungan alam semesta
ku basahi kedua kaki
agar kelak nanti
jalan yang aku tapaki
slalu dalam ridha Ilahi
Ya Allah
Ya rabbal baraza
Ya rabbanaa
Ighfirlanaa dzunubanaa
bertafakkur
merenung
mengagung
akan ke Esa-an Mu
addienk, Q_doezz, 29 Dzulhijjah 1429 H
ya Allah tuk sekian kali
hamba bersimpuh diri
memohon dikasihani
atas dosa-dosa kami
sudah ratusan atau bahkan ribuan
kali permohonan
sudah pula jutaan bahkan milyaran
kasih sayang Enta berikan
akan tetapi semua
selalu kami abaikan
tak terhiraukan
tanpa rasa penyesalan
acap waktu kesedihan datang
saat itu ingat Sang Penguasa
kesenangan melanda
Sang Penguasa tiada dibenaknya
Ya Ilaahii Rabbii
Sang Penguasa qalbii
jadikan diri
teguh berdiri pada tali yang Enta ridhai
Ya Ilaahii
ighfirlii dzunubii
fainlam taghfir
lanakunannaa minal khaasyiriin...
walhamdulillahi
rabbil 'aalamiin
washallahu 'ala syayyidinaa Muhammadin
awwalina wal aakhirin...
addienk, Qoedeoz, 24 Dzulhijjah 1429 H
Wahai Sang Pemberi Nurani
getarkan dan bukakan jendela hati
mereka yang telah mati
dengan nur aini
wahai Sang Penggoncang hati
teguhkanlah mereka pada tali
agama yang Enta beri
jalan tuk dilalui
kerna hidayah
inayah
yang Enta tanam
dalam jiwa sangat didamba
demi waktu
yang selalu bersamaku
teguhkan qalbu
tiap langkahku
demi waktu
yang gerogoti umurku
berikan Kerunia-Mu
dalam dukaku
Subhana Allah
Walhamdulillah
Walaa ilaaha
Illa Allah
Addienk, Qoedoes, 23 Dzulhijjah 1429 H
tak terasa
waktu begitu cepat
merayap tanpa keringat
melaju tak terkendalikan
detik bergerak
tanpa pemberhentian
menit menyokong dari belakang
jam terus berjalan
hari bersalaman
saling bergantian
jaga tiap saat
kala sang surya surut dalam barat
begitu laju kehidupan
sampai tiupan sangkakala
israfil terdengar
pada akhir zaman
tapi hamba berlimpah dosa
gelimang murka
gemerlap hina
bergumul dalam badan hamba
tiada rasa dan terasa
sang waktu meninggalkan
hamba tanpa tegur sapa
begitu saja menjauhi hamba
penuh pengharapan
dalam bentangan kasih sayang
Sang Penguasa alam
senantiasa melimpahkan
malu hamba berjalan
di bumi Enta
penuh congkah
kesombongan jiwa
malu hamba merangkak
memohon Enta
kerna jiwa
bergelimang nista
akhir tahun ini
hamba tangisi
laku hati penuh syaithoni
laku badani penuh kecamuk iblis
moga Enta
mau menerima hamba
penuh dosa dengan ampunan
ridha Sang Kuasa jagat raya
melangkah ke depan
tunduk tawadu' ketaqwaan
penuhi wajah binaran cahaya
melekat dalam jiwa raga
songsong awal hijrah
laksana anak tiada dosa
berbinar kemilau keimanan
tersenyum tiap orang memandang
Ilahi lastu li al-firdausi ahla
wala aqwa 'ala al-naari al-jahimii
fahablii taubatan waghfir dzunubii
fainnaka ghaafiru dzanbi al-'adhiimi
Ilahi 'abdukal 'aashi ataak,
muqirran bi dzunubi wa qad di'aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun,
wain tadrud faman narju siwaaka
addienk, Q_doez, 22 Dzulhijjah 1429 H
sore jelang maghrib
adzan bergumilir
bertautan dari masjid
satu dengan yang lain
menggetarkan manusia
dalam gemerlap dunia
ingatkan mereka
waktu jelang senja
saat terang berganti temaram
malam gelap menerawang
waktu hewan malam
mencari penghidupan
akankah hamba tiada rasa
semua tercipta tanpa daya upaya?
memangkah manusia hanya bisa
makan minum saja tanpa syukur atas kerunia?
alangkah indah
penuh gemerlap kerunia
syukur nikmat atas-Nya
ihlas sujud pada-Nya
hanya saja
hati manusia kadang
lupa kerunia
lupa Sang Khaliqnya
dalam kesusahan
manusia berbondong memohon
dalam keceriaan
manusia langkah penuh sombong
alangkah bahagia
insan dunia
penuh ridha tiap langkah kakinya
keihlasan jalani kehidupan
betapa ceria
hidup manusia
tiap gerik tubuhnya
dalam lindungan-Nya
owh...insan manusia
tingkahmu semua
langkahmu semua
semoga dalam ridha-Nya
ilahii
enta mathlubii
wa ridhaaka ya rabbii
jannatii
addienk, Q_doezz, 19 Dzulhijjah 1429 H
sore dirundung awan
dengan riang harapkan
sang pujaan dalam dekapan
walau cuma hayalan
mungkin perasaanku
yang selalu mendayu
tuk merasakan kasih sayang-Mu
yang kian menggerayangiku
syukur belumlah cukup
hanya terucap di mulut
yang senantiasa bergelayut
pada bibir pemuja-Mu
duhai Pemberi Ilham
berikan pada insan
yang penuh keihlasan
dalam ketaatan dan ketaqwaan
secerca harapan
terukir indah
bagai intan
yang bersinar
menerangi insan
yang dipenuhi kasih sayang
dalam dekapan
Sang Pencipta Alam
hanya do'a dan ihtiar
selalu hamba panjatkan
tu' dapat merasakan
semua ridha dalam genggaman
Ilahi 'abdukal 'aashi ataak,
muqirran bi dzunubi wa qad di'aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun,
wain tadrud faman narju siwaaka
addienk, Q_doez, 14 Dzulhijjah 1429 H.
dini dalam kesunyian
ku coba tuk merenungkan
hakikat kejadian
hamba pelaku dosa
betapa rasa kian menyayat jiwa
sirna terhempas moleknya dunia
tiada bekas dalam dada
laku dosa merajai jiwa
hamba malu tuk melaju
ke surga-Mu
hamba juga takut
akan Jahanam-MU
apakah hamba seorang manusia
yang pantas dalam ridha-Nya
apakah hamba seorang 'abduka
yang pantas dapat rahman rahim-Nya
hamba malu dan kaku
tu' mengaku
hamba seorang 'abdu
kerna laku bejadku
hanya dalam
dzikir dini hamba
menangis merajuk kepada Enta
Sang Penguasa jagat raya
memohon ampunan
memohon rahman
tu' cari ridha
dalam setiap langkah kehidupan
addienk, Q_doezz, 5 Dzul Hijjah 1429 H
duhai sang Penguasa hati
berikanlah pada insan ini
setetes embun di qalbii
yang mampu menelusupi
relung hati
menggugah jiwa hamba-Mu ini
dalam sendiri
selalu punya mimpi
mimpi esok hari
bisa jadi sandaran hati
dalam kekal ukhrawi
mendobrak jiwa ini
kesunyian paroh dini
munajatkan diri
pada Sang Penguasa hati
tuk slalu mohon ridhanii
diampuni
kelakuan insani
berulank kali
laku khilafii
wahai Penguasa hati
tunjukan pada kami
jalan lurus Engkau ridhai
slalu kami cari
addienk, Q_doezz, 3 Dzulhijjah 1429 H
duhai para pecinta
cinta akan dia
sang musthafa
kekasih-Nya
malukah engkau
akui bahwa beliau
pecinta sesama
walau beda
malukah engkau
mengakui beliau
nuran fauqa kulla nuur
rahmatan lil 'aalamiin
kenapa enta
tak seraya
bershalawat padanya
dengan suka cita
kenapa enta
cuma menganga
dan terpana
tanpa merasa
sedih tanpanya
gersang bilanya
sengsara ditinggalnya
cuma air mata
kesedihan terus
tanpa hembus
merongga dalam dada
yang menganga
wahai manusia
bila enta sang pecinta
akan Nabi-Nya
mengakui Rasulan-Nya
perlihatkan
pada sesama
bahwa enta
memang umatnya
hubbun nabii
wal aali
wa dzurriaati
wa ashhaabih
addienk, Q_doezz, 3 Dzulhijjah 1429 H
jepit...
engkau selalu dibawah...
melayani yang diatas tanpa rasa keluh kesah...
jepit...
betapa mulia dedikasimu...
kapan enkau beranjak dari tempatmu???
jepit...
engkau rasakan semua pilu lara tanpa desah bebanmu...
andai aku mampu meninggikan derajatmu...
engkau kan ku jadikan permadani emas
yang semua orang mengelu-elukan engkau..
tapi apalah daya
jepit...
aku sama juga denganmu...
tapi aku punya harapan moga kita ditinggikan oleh-Nya....
moga kita hidup dalam kedamaian...
moga kita saling merasakan...
betapa indah bila mampu merasakan kepedihan mu
jepit...
engkau siap melayani semua tingkatan..
anak sampai bapak..
fakir miskin sampai ghaniya...
kesetianmu melebihi manusia yang menjadi pelayan umat...
kepedulianmu melebihi ghaniya dalam menolong umat...
hebat engkau jepit.
addienk, Qudus, 02 Dzul Hijjah 1429 H

apa daya
waktu tlah terhenti
siapa sangka
semua tlah mati
muncul kegundahan
dalam rasa
dalam angan
dalam qalbanaa
kala kita
punya daya
apa yang telah kita
upayakan
kala kita
dalam kemampuan
apa yang kita
usahakan
kala kita
dalam kemakmuran
apa yang kita
telah perbantukan
kala kita
dalam keriangan
apa yang kita
tertawakan
tidak tahukah kita
saat semua
tak mampu bicara
tuk membohongi-Nya
tidak tahukan kita
waktu mulut terbungkam
cuma tangan
mata dan kaki yang bisa bicara
semua menjadi saksi
atas keserakahan hati
kedengkian qalbi
kecongkakan batin ini
ya Rabbanaa
jangan Engkau jadikan
hamba-Mu ini golongan
orang merugi akhinya
ya Rabbanaa
jangan Engkau jadikan
mulut mata kaki telinga
suka berbuat dosa
ya Rabbil izzati
ighfirlii dzunubii
fain lam taghfirlii
minal khaasyiriin
Ilahi 'abdukal 'aashi ataak,
muqirran bi dzunubi wa qad di'aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun,
wain tadrud faman narju siwaaka
addienk, Q-doez. 28 Dzul Qo'dah 1429 H
WALISONGO
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Arti Walisongo
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo ini adalah sebuah dewan yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) pada tahun 1474. Saat itu dewan Walisongo beranggotakan Raden Hasan (Pangeran Bintara); Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, putra pertama dari Sunan Ampel); Qasim (Sunan Drajad, putra kedua dari Sunan Ampel); Usman Haji (Pangeran Ngudung, ayah dari Sunan Kudus); Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri, putra dari Maulana Ishaq); Syekh Suta Maharaja; Raden Hamzah (Pangeran Tumapel) dan Raden Mahmud.
Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.
Nama-nama Walisongo
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa saja yang termasuk sebagai Walisongo, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
• Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
• Sunan Ampel atau Raden Rahmat
• Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
• Sunan Drajat atau Raden Qasim
• Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq
• Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
• Sunan Kalijaga atau Raden Said
• Sunan Muria atau Raden Umar Said
• Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga karena pernikahan atau dalam hubungan guru-murid.
1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Maulana Malik Ibrahim, keturunan ke-11 dari Husain bin Ali, juga disebut sebagai Sunan Gresik, atau terkadang Syekh Maghribi dan Makdum Ibrahim As-Samarqandy. Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarqandy, berubah menjadi Asmarakandi.[1] Sebagian cerita rakyat, ada pula yang menyebutnya dengan panggilan Kakek Bantal.
Maulana Malik Ibrahim adalah wali pertama yang membawakan Islam di tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan yang tersisihkan dalam masyarakat Jawa di akhir kekuasaan Majapahit. Misinya ialah mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Pada tahun 1419, setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Ampel
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, adalah putra Maulana Malik Ibrahim, Muballigh yang bertugas dakwah di Champa, dengan ibu putri Champa. Jadi, terdapat kemungkinan Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dari ayahnya dan Champa dari ibunya. Sunan Ampel adalah tokoh utama penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya untuk Surabaya dan daerah-daerah sekitarnya.
3. Sunan Bonang dan Sunan Drajat
Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Mereka adalah putra-putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang dan Sunan Drajat merupakan keturunan ke-13 dari Husain bin Ali
4. Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung, putra Raden Usman Haji yang belum dapat diketahui dengan jelas silsilahnya. Sunan Kudus adalah buah pernikahan Sunan Ngudung yang menikah dengan Syarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus keturunan ke-14 dari Husain bin Ali, diperkirakan wafat pada tahun 1550.
5. Sunan Giri
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang.
6. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq.
7. Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung.
8. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Di titik ini (Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat) bertemulah garis nasab Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati. Ibunda Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang, seorang putri keturunan keraton Pajajaran, anak dari Sri Baduga Maharaja, atau dikenal juga sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang. Makam dari Nyai Rara Santang bisa kita temui di dalam klenteng di Pasar Bogor, berdekatan dengan pintu masuk Kebun Raya Bogor.
Tokoh pendahulu Walisongo
• Syekh Jumadil Qubro
Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Terdapat beberapa versi babad yang meyakini bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Martin van Bruinessen (1994) menyatakan bahwa ia adalah tokoh yang sama dengan Jamaluddin Akbar (lihat keterangan Syekh Maulana Akbar di bawah).
Sebagian babad berpendapat bahwa Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. Hal tersebut menyebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek yang dominan di Asia Tengah, selain kemungkinan lainnya yaitu etnis Persia, Gujarat, ataupun Hadramaut.
Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.[2]
• Syekh Maulana Akbar
Syekh Maulana Akbar adalah adalah seorang tokoh di abad 14-15 yang dianggap merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama lainnya ialah Syekh Jamaluddin Akbar dari Gujarat, dan ia kemungkinan besar adalah juga tokoh yang dipanggil dengan nama Syekh Jumadil Kubro, sebagaimana tersebut di atas. Hal ini adalah menurut penelitian Martin van Bruinessen (1994), yang menyatakan bahwa nama Jumadil Kubro (atau Jumadil Qubro) sesungguhnya adalah hasil perubahan hyper-correct atas nama Jamaluddin Akbar oleh masyarakat Jawa.[3]
Silsilah Syekh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar) dari Nabi Muhammad SAW umumnya dinyatakan sebagai berikut: Sayyidina Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Jalal Syah, dan Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar).
Menurut cerita rakyat, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan atau berasal dari keturunan Syekh Maulana Akbar ini. Tiga putranya yang disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara; adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar kakek Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai, dan Zainal Alam Barakat.
Penulis asal Bandung Muhammad Al Baqir dalam Tarjamah Risalatul Muawanah (Thariqah Menuju Kebahagiaan) memasukkan beragam catatan kaki dari riwayat-riwayat lama tentang kedatangan para mubaligh Arab ke Asia Tenggara. Ia berkesimpulan bahwa cerita rakyat tentang Syekh Maulana Akbar yang sempat mengunjungi Nusantara dan wafat di Wajo, Makasar (dinamakan masyarakat setempat makam Kramat Mekkah), belum dapat dikonfirmasikan dengan sumber sejarah lain. Selain itu juga terdapat riwayat turun-temurun tarekat Sufi di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa Syekh Maulana Akbar wafat dan dimakamkan di Cirebon, meskipun juga belum dapat diperkuat sumber sejarah lainnya.
• Syekh Quro
Syekh Quro adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu pesantren Quro di Tanjungpura, Karawang pada tahun 1428.[4]
Nama aslinya Syekh Quro ialah Hasanuddin. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama} asal Mekkah, yang berdakwah di daerah Karawang. Ia diperkirakan datang dari Champa atau kini Vietnam selatan. Sebagian cerita menyatakan bahwa ia turut dalam pelayaran armada Cheng Ho, saat armada tersebut tiba di daerah Tanjung Pura, Karawang.
Syekh Quro sebagai guru dari Nyai Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa penguasa Cirebon. Nyai Subang Larang yang cantik dan halus budinya, kemudian dinikahi oleh Raden Manahrasa dari wangsa Siliwangi, yang setelah menjadi raja Kerajaan Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Pangeran Kian Santang yang selanjutnya menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat.
Makam Syekh Quro terdapat di desa Pulo Kalapa, Lemahabang, Karawang.
• Syekh Datuk Kahfi
Syekh Datuk Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih markas di pelabuhan Muara Jati, yaitu kota Cirebon sekarang. Ia bernama asli Idhafi Mahdi.
Majelis pengajiannya menjadi terkenal karena didatangi oleh Nyai Rara Santang dan Kian Santang (Pangeran Cakrabuwana), yang merupakan putra-putri Nyai Subang Larang dari pernikahannya dengan raja Pajajaran dari wangsa Siliwangi. Di tempat pengajian inilah tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Makam Syekh Datuk Kahfi ada di Gunung Jati, satu komplek dengan makam Sunan Gunung Jati.
• Syekh Khaliqul Idrus
Syekh Khaliqul Idrus adalah seorang muballigh Parsi yang berdakwah di Jepara. Menurut suatu penelitian, ia diperkirakan adalah Syekh Abdul Khaliq, dengan laqob Al-Idrus, anak dari Syekh Muhammad Al-Alsiy yang wafat di Isfahan, Parsi.
Syekh Khaliqul Idrus di Jepara menikahi salah seorang cucu Syekh Maulana Akbar yang kemudian melahirkan Raden Muhammad Yunus. Raden Muhammad Yunus kemudian menikahi salah seorang putri Majapahit hingga mendapat gelar Wong Agung Jepara. Pernikahan Raden Muhammad Yunus dengan putri Majapahit di Jepara ini kemudian melahirkan Raden Abdul Qadir yang menjadi menantu Raden Patah, bergelar Adipati Bin Yunus atau Pati Unus. Setelah gugur di Malaka 1521, Pati Unus dipanggil dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. [5]
Bukti dan analisa sejarah bahwa Walisongo keturunan Hadramaut
Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Walisongo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh daripada merupakan asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif. Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya Thariqah Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Walisongo adalah keturunan Hadramaut:
• L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l'archipel Indien (1886)[6] mengatakan:
”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”
• van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204):
”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang-orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya."
Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad spesifik kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga Hadramaut lainnya.
• Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.
• Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi'i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi'i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.
• Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.
Kontroversi
Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Walisongo adalah keturunan Tionghoa Indonesia.[rujukan?] Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa Walisongo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru sempat melarang terbitnya buku tersebut.[rujukan?]
addienk, 22 Dzulqo'dah 1429 H
diambil dari

hei cucu Adam...
saat kau terlelap...
saat kau terlena...
apa yang enkau harap???
hei cucu hawa...
saat kau ternganga
saat kau terpana
apa yang engkau pinta???
cuma rasa
kita semua
mampu merengkuhnya
dan terbuai-Nya
hanya kerna
Rahman
Rahim-Nya
kita berada singgasana
kemuliaan jiwa
kesucian qalbanaa
qana'ah dalam ibadah
mampu mengungkap semua
nikmat hidup
nikmat maut
nikmat kubur
semua rahmat dari-Nya...
Ilahi 'abdukal 'aashi ataak,
muqirran bi dzunubi wa qad di'aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun,
wain tadrud faman narju siwaaka
addienk, 12 Dzul Qa’dah 1429 H

salam semua...
wah nee ane dapat Pe Er dari rojuli alias rose juliet...wah garape darimana dulu ya???xixi...o y...ne blogs critane...buat blogs nee keinginanku tu ikut2n biar punya web sendiri n biar ketikan tanganku tambah lancar ja...hehe...terus terank aj...ane kurang faham tentang tetek benge' yang berkaitan dengan net...web...n laen sebagainya...
terus kenapa ane pake title niKi bLoge cah Qoedoez tu tu' identiti ane cos ane dilahrkan dan dibesarkan di kota kece' tu yang penuh fenomenal...sebab banyak sekali yang dibanggakan di kota sekecil tu...tapi futuristik nian tu' disinggahi..."weleh2 ky prongosi ae...ups kleru promosi"...xixi :)
kemudian nee blog ane telorke "wekz telor...emank ayam"...lali deng...ane buat maksude...pada bulan Juli 2008..wah je' kencur (bayi)y...
cukup aahh dah cape'...nee perlu dilanjutke ke temen2 y...
nee nominator kita...:
1. mb' rima
2. mas_zhie
3. kang Bazoekie
4. ach@n...
5. ??? xixi teu dech g da lagee...o y...si gemblunk "Creeboon"...kena kowe...
selanjute nt2 smua musti garap n kerjakan dengan sebaik2na PR nee...xixi :D
cacian dech...
addienk, 10 Dzul Qo'dah 1429 H
~| iklane cah Qoedoez |~
Troubleshooting Computer | hardware | software | mobile
ceritaku...
link rencang2
- alaydrus
- Belajar Bahasa Arab beb wa2n
- Bint@nk Hati punya nie sweet
- blogge Lia
- bulanbintang Roeze
- Buntet Pesantren
- cari kerja Jateng
- Catatan Ghozian Islam Karami
- Catatan Ghozian Islam Karami
- Catatan Ghozian Islam Karami
- computer tutorials
- Downloads Area
- fashion punya nie (cherry)
- Fauza Farah
- Fazz Malay
- free webhosting dan domain name
- gado-gado kang attin
- gojigeje
- google adsense guides
- ide-ide latansa
- kaka
- komunitas blogger cirebon
- luzmanbolania
- Majelis Rasulullah
- mania bola juja...
- mannusa
- NdesO-Changes To Be Better
- nida's blog
- Ningtyas
- Orenk's blog
- putri
- riem@
- rojuli
- room muhammad
- Syarifa Afifah Alaydrus
- tetirahe bazoekie
- tyasjetra
- vha2
- web Habib Luthfi ben Yahya Pekalongan
.jpg)